Puluhan Pelajar Alami Gangguan Misterius saat Kemah di Kepurun, Agenda Dihentikan Lebih Awal

waktu baca 2 menit
Rabu, 13 Mei 2026 18:44 5 Redaksi

Klaten, Faktanusantara.co.id//, – Kegiatan perkemahan yang diikuti siswa SMKN 2 Gedangsari di kawasan bumi perkemahan Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, mendadak terhenti setelah puluhan peserta mengalami kondisi yang diduga kesurupan pada Senin malam (11/5/2026) sekitar pukul 21.30 WIB.

 

Peristiwa tersebut sontak memicu kepanikan di area perkemahan. Suasana yang semula kondusif berubah ricuh hingga larut malam, sehingga pihak sekolah memutuskan menghentikan kegiatan yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dua malam.

 

Seorang siswa yang ditemui pada Rabu (13/5/2026) menyebut lokasi perkemahan tersebut memang kerap dikaitkan dengan cerita mistis oleh warga sekitar, meski tetap sering digunakan untuk aktivitas kemah.

“Warga sekitar bilang tempat itu memang punya cerita angker, walaupun sering dipakai untuk kegiatan perkemahan,” ujarnya.

 

Ia juga menilai respons sebagian guru pendamping kurang sigap saat sejumlah siswa mengalami kondisi tersebut. Menurutnya, ada guru yang terlihat santai menggunakan telepon genggam ketika situasi sedang ramai.

 

“Saat beberapa siswa mengalami kesurupan, ada guru yang justru sibuk bermain ponsel. Ada juga yang hanya mondar-mandir tanpa tindakan jelas,” tuturnya.

 

Keluhan serupa datang dari salah seorang siswi yang menyoroti keterbatasan pengawasan serta kondisi fasilitas yang dinilai kurang memadai. Ia menyebut penerangan di tenda peserta putri minim, sementara beberapa tenda dalam kondisi rusak.

 

“Guru pendamping tidak banyak, sedangkan pesertanya cukup banyak. Tenda perempuan gelap dan beberapa sudah tidak layak digunakan,” katanya.

Selain itu, para peserta disebut diminta membayar iuran sebesar Rp20 ribu untuk biaya pencucian tenda setelah kegiatan selesai.

 

Di sisi lain, muncul dugaan tekanan terhadap seorang siswi yang hendak dijemput keluarganya usai insiden terjadi. Sejumlah siswa menyebut ada ancaman terkait nilai kepramukaan dan status kenaikan kelas apabila peserta memilih pulang lebih awal.

 

“Katanya kalau pulang sebelum selesai, nilai pramuka bisa tidak keluar dan kenaikan kelas terancam,” ungkap seorang siswa.

Informasi yang diperoleh menyebut jumlah siswa yang mengalami gangguan tersebut diperkirakan lebih dari 20 orang. Sampai berita ini dipublikasikan, pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian tersebut.

(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA