Danrem 072/Pamungkas Hadiri Pentas Wayang Kulit HUT ke-61 Yonif 403/Wirasada Pratista, Budaya Jadi Perekat TNI dan Masyarakat

waktu baca 2 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 11:46 19 Redaksi

SLEMAN, Faktanusantara.co.id//, – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Batalyon Infanteri (Yonif) 403/Wirasada Pratista berlangsung semarak dengan digelarnya pagelaran wayang kulit di Markas Yonif 403/Wirasada Pratista, Sleman, Jumat (31/7/2026).

 

Kegiatan tersebut dihadiri Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., bersama sejumlah pejabat TNI, Forkopimda, tokoh masyarakat, dan tamu undangan.

 

Turut hadir dalam kegiatan itu Kasrem 072/Pamungkas, para Kepala Seksi Korem, Dandim 0732/Sleman, Ka Korum Yonif 403/WP, jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman,

 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta masyarakat yang memadati lokasi acara.

 

Pertunjukan wayang kulit dibawakan dalang Ki Sancoko Hadi Prayitno dengan lakon “Wahyu Eka Bawana”, yang disuguhkan secara terbuka sebagai hiburan sekaligus upaya melestarikan budaya.

 

Dalam sambutannya, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh keluarga besar Yonif 403/Wirasada Pratista atas pengabdian yang telah memasuki usia ke-61.

 

Menurutnya, satuan tersebut telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui berbagai tugas yang diemban.

 

Ia juga mengapresiasi prajurit Yonif 403/WP yang saat ini sedang melaksanakan penugasan di Papua sebagai bentuk kepercayaan negara dalam menjaga stabilitas dan keamanan wilayah.

 

Danrem menjelaskan bahwa penyelenggaraan pagelaran wayang kulit telah menjadi tradisi tahunan menjelang peringatan HUT Yonif 403 setiap 1 Agustus.

 

Tradisi tersebut menjadi bentuk komitmen satuan dalam merawat nilai-nilai budaya lokal Yogyakarta yang telah diwariskan secara turun-temurun.

 

Menurutnya, wayang kulit bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang mengandung nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, serta semangat persatuan.

 

Karena itu, generasi muda diharapkan memiliki kepedulian untuk terus menjaga keberlangsungan warisan budaya yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak tahun 2003.

 

“Lestarinya budaya merupakan tanggung jawab bersama. Jangan sampai generasi muda kehilangan ketertarikan terhadap warisan leluhur, sementara masyarakat dari berbagai negara justru datang untuk mempelajarinya,” ujar Danrem.

 

Lakon “Wahyu Eka Bawana” yang dipentaskan menggambarkan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan moral, persatuan, dan pengabdian demi terciptanya kehidupan yang damai dan sejahtera.

 

Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat pengabdian prajurit TNI dalam menjalankan tugas kepada bangsa dan negara.

 

Melalui kegiatan budaya ini, hubungan antara TNI dan masyarakat semakin erat. Kebersamaan yang terjalin dalam suasana penuh kekeluargaan menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat, sekaligus memperkuat komitmen menjaga persatuan, budaya, dan keutuhan NKRI.

(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA