Musim Hajatan Bulan Besar dan Beban Biaya Pendidikan, Guru Non-ASN Hadapi Tekanan Ganda

waktu baca 3 menit
Senin, 15 Jun 2026 22:51 6 Redaksi

Purworejo, Faktanusantara.co.id//, – Memasuki Bulan Besar atau Dzulhijjah, masyarakat Jawa mulai ramai menggelar berbagai acara keluarga seperti pernikahan dan khitanan.

 

Tradisi yang telah mengakar sejak lama ini menjadikan Bulan Besar sebagai waktu yang dianggap baik untuk menyelenggarakan hajatan sebelum datangnya Bulan Suro yang identik dengan kegiatan spiritual dan perenungan diri.

 

Di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Purworejo, peningkatan jumlah hajatan membawa dampak tersendiri bagi masyarakat.

 

Selain mempererat tali silaturahmi dan menjaga tradisi gotong royong, banyaknya undangan yang harus dihadiri juga menambah pengeluaran rumah tangga, termasuk bagi kalangan tenaga pendidik.

 

Sejumlah guru PAUD, TK, dan SD mengaku harus mengatur keuangan dengan lebih cermat karena dalam waktu yang hampir bersamaan mereka dihadapkan pada berbagai kebutuhan sosial.

 

Sumbangan untuk acara pernikahan, khitanan, hingga bantuan bagi keluarga yang sedang berbahagia menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat yang sulit dipisahkan.

 

Salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir dirinya menerima sejumlah undangan hajatan.

 

Selain itu, ada pula kebutuhan sosial lain yang perlu mendapat perhatian sebagai bentuk solidaritas terhadap lingkungan sekitar.

 

Menurut para guru, budaya saling membantu merupakan nilai positif yang harus dipertahankan.

 

Namun, ketika berbagai kegiatan sosial datang bersamaan, hal tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan terbatas.

 

Situasi semakin terasa karena bulan Juni bertepatan dengan berakhirnya semester pendidikan dan persiapan memasuki tahun ajaran baru.

 

Banyak keluarga, termasuk para guru yang juga berperan sebagai orang tua, harus menyediakan anggaran tambahan untuk kebutuhan sekolah anak.

 

Biaya pendidikan yang harus dipersiapkan meliputi pembelian seragam, buku pelajaran, tas, sepatu, perlengkapan sekolah, hingga berbagai kebutuhan administrasi.

 

Pengeluaran tersebut meningkat bagi keluarga yang anaknya akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 

Selain kebutuhan pendidikan, sejumlah sekolah juga mengadakan kegiatan perpisahan atau akhirussanah yang memerlukan partisipasi biaya dari para orang tua siswa.

 

Kondisi ini menambah daftar pengeluaran yang harus dipenuhi menjelang tahun ajaran baru.

 

Para guru juga menyoroti masih rendahnya tingkat kesejahteraan sebagian tenaga pendidik non-ASN, khususnya guru TK.

 

Berdasarkan pengakuan sejumlah guru, honor yang diterima setiap bulan masih berada pada kisaran yang relatif rendah dibandingkan kebutuhan hidup yang terus meningkat.

 

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para tenaga pendidik tersebut tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dalam mendidik generasi muda.

 

Mereka berharap perhatian terhadap kesejahteraan guru non-ASN dapat terus ditingkatkan agar kualitas pendidikan semakin baik dan para pendidik dapat bekerja dengan lebih optimal.

 

Fenomena ini menggambarkan bagaimana kuatnya tradisi sosial masyarakat berjalan beriringan dengan tantangan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga.

 

Menjelang tahun ajaran baru, keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kebutuhan pendidikan menjadi perhatian penting bagi masyarakat, khususnya kalangan guru non-ASN di Kabupaten Purworejo.

(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA