Refleksi Pancasila 2026: Semangat Marhaenisme Didorong Menjadi Energi Perubahan Bangsa

waktu baca 3 menit
Selasa, 2 Jun 2026 21:14 6 Redaksi

SEMARANG, Faktanusantara.co.id//, – Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 dimaknai tidak sekadar sebagai agenda tahunan untuk mengenang lahirnya dasar negara, tetapi juga sebagai momentum memperkuat komitmen kebangsaan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan refleksi kebangsaan yang digelar Konsorsium Kerja Budaya dalam rangka Bulan Bung Karno.

 

Acara berlangsung di Hall Sekretariat Dewan Kesenian Semarang, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Senin (1/6), dengan menghadirkan sejumlah tokoh senior Marhaenis.

 

Mengusung tema “Revolusi Belum Berakhir”, forum tersebut menghadirkan Drs. St. Sukirno, M.S. dan H. Soetjipto, S.H., M.H., yang dikenal aktif dalam perjalanan dan pengembangan organisasi Keluarga Besar Marhaenis (KBM).

 

Keduanya membahas pentingnya pemikiran Bung Karno dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan politik masa kini.

 

Dalam pemaparannya, St. Sukirno menekankan bahwa Pancasila tidak boleh dipahami hanya sebagai simbol negara atau warisan sejarah semata.

 

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus terus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui keberpihakan terhadap masyarakat yang masih menghadapi berbagai kesulitan sosial dan ekonomi.

 

Ia menjelaskan bahwa lahirnya Pancasila tidak terlepas dari perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam melawan penindasan dan ketidakadilan.

 

Oleh karena itu, semangat tersebut harus terus dihidupkan melalui kebijakan dan tindakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.

 

Sementara itu, Soetjipto menilai pesan Bung Karno mengenai konsep “Revolusi Belum Selesai” masih memiliki relevansi kuat hingga saat ini.

 

Menurutnya, revolusi yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan perubahan politik, melainkan upaya berkelanjutan untuk menghapus kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses kesehatan, serta menciptakan kesempatan kerja yang lebih merata.

 

Ia menyebut bahwa selama masih terdapat kesenjangan sosial dan ketidakmerataan kesejahteraan, maka cita-cita perjuangan bangsa belum sepenuhnya terwujud.

 

Karena itu, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri negara.

 

Para narasumber juga menegaskan bahwa organisasi kader seperti KBM memiliki peran penting dalam memperkuat pendidikan kebangsaan, membangun kesadaran politik masyarakat, serta mendorong pemberdayaan rakyat di berbagai sektor kehidupan.

 

Dalam diskusi tersebut, peserta diajak mencermati berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari persoalan ekonomi hingga melemahnya budaya gotong royong akibat berkembangnya sikap individualistis dan pragmatis.

 

Karena itu, Hari Lahir Pancasila dinilai perlu dijadikan momentum untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi, termasuk mengawal kebijakan publik agar tetap sesuai dengan amanat konstitusi dan kepentingan rakyat banyak.

 

Melalui dialog budaya dan kebangsaan tersebut, peserta diajak memahami bahwa perjuangan generasi masa kini tidak lagi menghadapi kolonialisme dalam bentuk fisik, melainkan berbagai persoalan seperti ketimpangan sosial, korupsi, penyalahgunaan kewenangan, serta kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.

 

Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa cita-cita Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam kebudayaan memerlukan kerja sama seluruh elemen bangsa.

 

Semangat keadilan sosial dan kemanusiaan yang diwariskan Bung Karno dinilai tetap relevan sebagai fondasi dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA