Kade Sudiana Gagas Bank Tani Model Subak untuk Lepaskan Petani Bali dari Beban Modal dan Tekanan Alih Fungsi Laha

waktu baca 3 menit
Selasa, 30 Jun 2026 21:04 16 Redaksi

 

LEMBRANA, Faktanusantara.co.id// – Di balik hiruk pikuk pariwisata Bali yang mendunia, ada kelompok petani yang terus merawat ketahanan pangan dan budaya Subak. Sistem irigasi tradisional yang ditetapkan UNESCO ini menjadi tulang punggung pertanian sekaligus penjaga lanskap pulau dewata.

Namun di lapangan, petani menghadapi tekanan berat. Mulai dari ongkos produksi tinggi, harga pupuk mahal, akses modal terbatas, hingga risiko sawah berubah fungsi menjadi kawasan lain.

Hal itu disampaikan pemerhati pertanian Bali Kade Sudiana, S.E., http://S.Pd., M.M., http://M.Pd., saat ditemui di areal Subak Berawantangi, Senin 29 Juni 2026.

Menurut Kade Sudiana, situasi tersebut membuat petani berada dalam posisi terjepit. Bersama tim, ia telah menyampaikan aspirasi petani langsung ke Wakil Presiden RI. Salah satu usulan utama adalah pembentukan “Bank Tani Berbasis Subak” sebagai skema pembiayaan yang adil dan berkesinambungan.

“Bali punya dua karakter pertanian,” kata Kade Sudiana.

Ia menjelaskan, karakter pertama adalah sawah beririgasi Subak yang menjadi kekuatan padi Bali. Karakter kedua adalah lahan kering penghasil kopi, kakao, dan hortikultura yang ikut menguatkan wisata desa.

Sayangnya, citra Bali seringkali hanya identik dengan pantai dan hotel. Padahal, kata dia, keberlanjutan pulau ini juga bergantung pada petani yang memelihara sawah, air, Subak, dan suasana pedesaan.

“Pilar utama Bali adalah petani. Mereka yang menjaga sawah, sumber air, Subak, dan lanskap desa,” tegasnya.

*Empat Tantangan Petani Bali*

Kade Sudiana memetakan empat masalah utama. Pertama, biaya tanam yang tinggi. Satu hektare sawah butuh modal sekitar Rp20 juta per musim. Jika tanam dua kali setahun, kebutuhan bisa Rp40 juta.

Kedua, jeda arus kas. Petani harus keluar modal sejak pengolahan tanah, bibit, dan pupuk, tetapi baru panen setelah empat bulan. Kondisi ini kerap membuat mereka bergantung pada tengkulak.

Ketiga, alih fungsi lahan karena harga tanah naik seiring perkembangan pariwisata. Banyak petani dihadapkan pilihan mempertahankan sawah atau menjualnya.

Keempat, minimnya regenerasi. Anak muda mulai meninggalkan pertanian karena imbal hasil kecil dan risiko besar.

Berdasarkan hitungannya, satu hektare butuh bibit 40 kg, urea 250 kg, NPK Phonska 250 kg, ongkos olah tanah Rp2,5 juta, dan ongkos tanam Rp2,5 juta. Total sekitar Rp20 juta, dengan hasil 7,5–8 ton gabah dan harga Rp6.500/kg.

*Solusi Bank Tani Berbasis Subak*

Konsep Bank Tani disebut cocok dengan karakter pertanian Bali. Lembaga ini bisa menyalurkan modal untuk olah tanah, benih, pupuk, hingga panen. Pembayaran disesuaikan dengan siklus panen.

“Petani tidak butuh bantuan temporer. Mereka perlu akses modal yang adil, murah, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Selain pembiayaan, Kade Sudiana mendorong transisi ke pertanian organik. Subak Berawantangi menjadi contoh, dengan proses bertahap selama tiga tahun dari pupuk campuran ke organik penuh. Hasilnya, beras organik berkualitas lebih baik dan harga jual lebih tinggi. Ia juga siap membantu sertifikasi agar produk Bali kompetitif.

“Kalau pariwisata etalase Bali, pertanian fondasinya. Fondasi kuat, Bali tetap jadi kebanggaan Indonesia. Usulan Bank Tani Berbasis Subak diharapkan jadi langkah menjaga pangan, budaya, dan keberlanjutan pariwisata,” tutupnya.

*Kata Kunci:* Petani Bali, Subak Berawantangi, Bank Tani Berbasis Subak, Pertanian Bali, Ketahanan Pangan
(Redaksi/Tim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA