
GUNUNGKIDUL, Faktanusantara co id// – Selasa pagi, 14 Juli 2026, halaman Balai Kalurahan Gari, Wonosari, mendadak ramai. Bukan karena ada pasar atau hajatan. Tapi karena 46 bilah tosan aji disusun rapi untuk “dimandikan”.

Ya, itulah prosesi _jamasan_ pusaka. Tradisi membersihkan keris, tombak, dan benda pusaka peninggalan leluhur ini kembali digelar di Kalurahan Gari. Dan animo warga? Luar biasa.

Panitia awalnya hanya menyiapkan kuota 46 bilah. Faktanya, pendaftar yang datang jauh melebihi angka itu. Kursi penuh, tikar digelar, dan obrolan tentang sejarah pusaka terdengar di setiap sudut.
*Dari Usulan Warga, Jadi Bukti Cinta Budaya*

Lurah Kalurahan Gari, Widodo, mengaku kegiatan ini muncul dari usulan pemerintah kalurahan sendiri. Alasannya sederhana: warga Gari ternyata punya perhatian besar pada warisan leluhur.

“Gari sekarang masuk rintisan Kalurahan Budaya. Salah satu yang kami dorong ya jamasan tosan aji ini,” kata Widodo di sela acara.
Yang mengejutkan, kata dia, dari kegiatan ini baru ketahuan kalau di Gari ada banyak sekali kolektor dan pecinta tosan aji. Selama ini mereka menyimpan sendiri-sendiri di rumah.
“Ternyata banyak sekali. Ke depan kami ingin bikin wadah, komunitas pelestari tosan aji. Biar bisa kumpul, belajar bareng, dan melestarikan bareng-bareng,” tambahnya.
Salah satu warga yang ikut, sambil menenteng 8 bilah pusaka, cerita kalau di rumahnya masih ada lebih banyak lagi.
“Saya bawa 4 keris dan 4 tombak. Itu semua pusaka warisan. Sebenarnya masih banyak di rumah, tapi kuotanya terbatas,” ujarnya sambil tersenyum.
*Agenda Tahunan yang Selalu Penuh*
Kegiatan di Gari ini bukan acara dadakan. Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Eddy Sarjono, menjelaskan jamasan tosan aji adalah program rutin tahunan yang dibiayai Dana Keistimewaan DIY.
Tahun 2026 ini, Dinas Kebudayaan menyiapkan 10 paket jamasan di berbagai titik Gunungkidul. Yang pertama sudah digelar 9 Juli di tingkat kabupaten, sehari setelah Keraton Yogyakarta menggelar jamasan pada 7 Juli.
“Sebagai Kabupaten Pusaka, kami baru gelar setelah Keraton selesai. Yang ikut bukan cuma pusaka Pemda, tapi juga dari Kapanewon, UPT, sampai milik warga,” jelas Eddy.
Antusiasme warga juga membuat jumlah pusaka yang dijamas di tingkat kabupaten membengkak jadi 70-80 bilah. Padahal proses pengeringannya lama.
“Kami batasi karena keterbatasan waktu. Tapi warga datang dari mana-mana. Ya kami layani semaksimal mungkin,” katanya.
*Lebih dari Sekadar Cuci Keris*
Bagi warga Gari, jamasan bukan sekadar ritual membersihkan karat. Ini momen berkumpul, berbagi cerita, dan mengingat jati diri. Di tengah gempuran budaya modern, tradisi seperti ini jadi pengingat: identitas itu penting.
Setelah dari Gari, rombongan jamasan akan keliling lagi ke Jepitu, Pulutan, Piyaman, Wonosari, dan beberapa kalurahan lain.
“Harapan kami, semakin banyak warga yang aktif menjaga warisan. Baik bendanya, maupun tradisinya,” tutup Eddy.
Dan dari keramaian di Balai Gari pagi itu, satu hal jelas: selama masih ada yang mau duduk bersama, menyeka bilah pusaka, dan bercerita tentang leluhur, maka budaya Gunungkidul tidak akan pernah mati.
Ia hanya sedang dipoles, agar tetap berkilau untuk generasi berikutnya.
(Tim)



Tidak ada komentar