Tapak Suci Muktamar XVI Rencanakan Gelar Kehormatan untuk Wali Kota Semarang

waktu baca 2 menit
Sabtu, 11 Jul 2026 11:11 8 Redaksi

SEMARANG, Faktanusantara.co.id// – Perhelatan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang tidak hanya fokus pada konsolidasi internal. Forum ini sekaligus menjadi ruang pemberian apresiasi kepada figur yang dinilai memiliki andil besar dalam memajukan pencak silat nasional.

Salah satu yang masuk dalam usulan adalah Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng. Ia diajukan untuk menyandang status Anggota Kehormatan Tapak Suci atas dukungannya terhadap pengembangan olahraga bela diri di wilayahnya.

*Pengusulan Lewat Tahapan Organisasi*

Ketua PW Tapak Suci Jateng merangkap Ketua Panitia Muktamar XVI, Wiwoho Aji Santoso, menyebut status tersebut tidak diberikan begitu saja. Ada proses pembahasan di jajaran pimpinan setelah menerima usulan awal.

Gagasan ini muncul saat audiensi panitia dengan Pemkot Semarang dalam rangka persiapan muktamar. Dalam pertemuan itu, pengurus Tapak Suci memaparkan capaian organisasi dan rencana kegiatan besar, yang direspons positif oleh pemerintah kota.

“Penghargaan ini kami berikan kepada pihak yang terbukti mendukung perkembangan pencak silat, terutama dalam membantu program organisasi dan pembinaan atlet,” ungkap Wiwoho.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara Anggota Kehormatan dengan Pendekar Kehormatan. Gelar Pendekar Kehormatan memiliki syarat dan tahapan lebih panjang sesuai AD/ART Tapak Suci di bawah Muhammadiyah.
Sedangkan Anggota Kehormatan ditujukan bagi tokoh yang berjasa, tanpa harus melewati jenjang kependekaran.

*Nama Akademisi Masuk Daftar Usulan*

Selain Agustina Wilujeng, sejumlah akademisi juga diusulkan menerima Pendekar Kehormatan. Beberapa di antaranya Rektor UMP Prof. Syuhud, Rektor Unimus Prof. Masrukhi, Dr. Tafsir, Prof. Harun, dan nama lain yang masih dikaji pimpinan wilayah.

Wiwoho mencontohkan langkah Prof. Masrukhi yang mewajibkan maba Unimus belajar pencak silat sebagai bagian pembinaan karakter. Kebijakan itu dinilai turut menjaga warisan budaya bangsa.

Sebagai juri IPSI Jateng dan wasit internasional, Wiwoho menilai perhatian Pemkot Semarang terhadap kegiatan IPSI serta penyelenggaraan Muktamar XVI menjadi alasan kuat pengusulan tersebut.

*Tegaskan Nilai Kebhinekaan*

Ia menegaskan Tapak Suci memegang prinsip inklusif dan persatuan. Status Kehormatan dapat diberikan kepada siapa pun yang berkomitmen memajukan pencak silat, tanpa memandang latar belakang.

Lewat Muktamar XVI di Semarang, Tapak Suci menargetkan lahirnya kepemimpinan baru sekaligus mempererat kolaborasi antara perguruan silat, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk menjaga pencak silat sebagai budaya bangsa dan wadah pembentukan karakter generasi muda.

(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA