Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo Tetap Lestari, Perpaduan Budaya, Sejarah, dan Wisata di Semarang

waktu baca 3 menit
Minggu, 29 Mar 2026 18:55 11 Redaksi

SEMARANG,Faktanusantara.co.id// — Kawasan Gua Kreo kembali dipenuhi suasana sakral sekaligus meriah pada Sabtu (28/3), saat masyarakat menggelar tradisi Sesaji Rewanda. Tradisi yang berlangsung sepekan setelah Idul Fitri ini menghadirkan momen unik, di mana kera-kera penghuni Gua Kreo diberi sajian hasil bumi oleh warga sebagai bagian dari ritual turun-temurun.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga merupakan bentuk pelestarian budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini mencerminkan penghormatan terhadap sejarah sekaligus menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.

Prosesi diawali dengan kirab budaya sejak pagi hari. Warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, mengarak tujuh gunungan berisi aneka hasil bumi seperti buah, sayuran, ketupat, dan makanan khas lainnya. Dalam arak-arakan itu juga ditampilkan replika kayu jati yang melambangkan kisah Sunan Kalijaga saat membawa kayu dari Gua Kreo untuk pembangunan Masjid Agung Demak.

Setibanya di lokasi utama, acara dilanjutkan dengan doa bersama sebelum hasil bumi tersebut dibagikan kepada kawanan kera. Ritual ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat sekaligus bentuk penghormatan terhadap makhluk hidup yang diyakini memiliki kaitan sejarah dengan penyebaran Islam di Jawa.

Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menjelaskan bahwa kera-kera di kawasan tersebut tidak dianggap sebagai hama, melainkan bagian dari warisan budaya yang harus dijaga. Menurutnya, masyarakat setempat memiliki tanggung jawab untuk merawat Gua Kreo beserta seluruh isinya, termasuk keberadaan satwa tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai pelestarian ini telah diwariskan secara turun-temurun, sehingga warga hidup berdampingan secara harmonis dengan kera-kera di kawasan itu tanpa ada upaya untuk mengganggu apalagi membunuhnya.

Tradisi Sesaji Rewanda sendiri telah menjadi bagian penting dalam perayaan Syawalan di Semarang. Melalui kegiatan ini, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas nikmat kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah diterima.
Selain prosesi utama, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan kolosal bertajuk “Mahakarya Gua Kreo” yang digelar sehari sebelumnya, melibatkan lebih dari 150 seniman tari dan musik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk mengangkat nilai budaya sekaligus memperkuat daya tarik wisata daerah.
Menurutnya, tradisi ini juga menjadi sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah penyebaran Islam oleh Sunan Kalijaga, serta memperkuat semangat kebersamaan, gotong royong, dan keseimbangan hidup antara manusia dengan lingkungan sekitar.

Keberadaan kera di Gua Kreo pun kini tidak hanya dipandang sebagai bagian dari ekosistem, tetapi juga telah menjadi identitas khas kawasan tersebut. Harmoni antara manusia dan satwa terus dijaga sebagai bagian dari kearifan lokal.
Dalam sektor pariwisata, tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat merasakan langsung kekayaan budaya yang autentik dan sarat makna.
(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA