Akademisi Undip: Atasi Banjir Semarang Butuh Edukasi Warga dan Sinergi Octa Helix

waktu baca 3 menit
Minggu, 31 Mei 2026 09:53 5 Admin Faktanusantara

SEMARANG, Faktanusantara.co.id// – Pernyataan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng soal rumitnya penanganan banjir ditanggapi akademisi. Pakar Hidrologi Universitas Diponegoro sekaligus Ketua Forum DAS Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Sriyana, MS., menyebut kondisi alam dan tata ruang Kota Semarang memang menuntut penanganan yang terpadu.

Sriyana menjelaskan, banjir yang sebelumnya terjadi di kawasan Ngaliyan dipicu kombinasi cuaca ekstrem dan karakteristik geografis setempat. Data BMKG 14–15 Mei 2026 mencatat curah hujan di wilayah itu tergolong lebat, 50–100 milimeter per hari, yang langsung membebani Sub-Sistem Drainase Kali Silandak.

“Warga perlu tahu, bentuk DAS di Ngaliyan itu bulat seperti mangkuk besar. Secara alami, saat hujan deras, air dari seluruh perbukitan mengalir dan terkumpul di satu titik dalam waktu bersamaan. Akibatnya muncul puncak aliran yang sangat tajam sehingga banjir bisa terjadi cepat. Beda dengan DAS yang memanjang, hidrografnya lebih landai dan banjir butuh waktu lebih lama,” kata Sriyana, Jumat 29 Mei.

Kondisi itu diperparah perubahan di hulu, mulai alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk tak terkendali, sampai berkurangnya daerah resapan. Saat hujan deras, perubahan tata ruang ini menimbulkan erosi besar. Tanah dari hulu kemudian menjadi sedimen lumpur pekat di hilir, menyumbat selokan lingkungan, dan memicu air meluap ke permukiman warga di Purwoyoso.

Menurut Sriyana, infrastruktur makro yang dibangun Pemkot Semarang sebenarnya sudah baik. Namun kinerja drainase terganggu sampah dan banyaknya bangunan liar yang mempersempit bantaran sungai. Pemkot juga menghadapi kendala anggaran operasi dan pemeliharaan pompa drainase yang jumlahnya terus bertambah.

“Pengelolaan tata air modern tidak bisa pakai cara lama atau dibebankan ke satu instansi saja. Kita harus melihat dari unit terkecil, yaitu kelurahan. Delapan unsur dalam konsep Octa Helix harus bergerak bersama: Pemerintah Pusat lewat BBWS untuk sungai besar, DPU untuk drainase sekunder, Disperkim untuk saluran lingkungan, ditambah akademisi, TNI-Polri, masyarakat, politik, dan media. Perlu aksi nyata, konsisten, dan berpikir global tapi bertindak lokal untuk Kota Semarang,” tegasnya.

Sriyana mendorong penguatan kapasitas RT dan RW dalam menjaga lingkungan. Salah satu usulan: mengintegrasikan anggaran Rp25 juta per tahun di tingkat RT khusus untuk gerakan pengelolaan sampah mandiri Zero Waste. Dengan begitu, sampah dipilah dari rumah tangga agar tidak menyumbat drainase kota.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi masukan tersebut dan menegaskan edukasi publik jadi pilar utama program penataan lingkungan Pemkot ke depan. Agustina menyebut koordinasi dengan BBWS Pemali Juana untuk pengerukan sungai utama terus berjalan, dibarengi pembersihan selokan oleh dinas teknis kota.

“Terima kasih atas analisis Prof. Sriyana. Pandangan ini memperjelas bahwa masalah banjir saling terkait dari hulu ke hilir, bahkan sampai kebiasaan kita di rumah. Pemkot Semarang akan terus kolaborasi lintas sektor, tapi kami juga ajak warga merawat saluran, tidak menutup lubang kontrol drainase, dan mulai pilah sampah dari rumah,” kata Agustina.
(Red)

Admin Faktanusantara

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA