
SEMARANG, Faktanusantara.co.id// – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kini mencapai 83 ribu unit di seluruh Indonesia dan menjadi penopang baru ekonomi desa.

Meski infrastruktur digital nasional terus dibangun, tantangan utama justru ada pada pemanfaatannya. Banyak koperasi desa dan UMKM yang belum sepenuhnya terhubung ke ekosistem digital.
Pemerintah menegaskan pembangunan teknologi tidak berhenti di ketersediaan jaringan. Jaringan harus benar-benar dimanfaatkan untuk mendorong ekonomi kerakyatan.
Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memperkuat peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai penggerak UMKM lokal di berbagai wilayah.

Hal itu disampaikan Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi, Farida Dewi Maharani, dalam Workshop Media Cerita Koperasi Desa, Jadi Berita Bermakna di Semarang, Jawa Tengah, Rabu 6/5/2026. Kegiatan ini diikuti jurnalis media daring, cetak, televisi, dan radio.
Menurut Farida, KDKMP punya posisi penting dalam menopang ekonomi nasional. Namun dari sekitar 60 juta UMKM di Indonesia, baru 40 persen yang masuk ke ekosistem digital.
“Transformasi digital koperasi desa dan UMKM tidak bisa jalan sendiri. Butuh kolaborasi agar UMKM naik kelas, adaptif, dan berkelanjutan,” kata Farida.
Ia menambahkan, Kemkomdigi telah membangun infrastruktur telekomunikasi secara masif. Saat ini jaringan 4G sudah menjangkau 98,95 persen populasi Indonesia. Layanan 5G juga tersedia di 22 persen pusat ekonomi dan kawasan urban.
“Penguatan infrastruktur ini kami arahkan agar koperasi desa dan UMKM makin terkoneksi internet. Akses pasar lebih luas, daya saing daerah meningkat,” jelasnya.
Farida menyebut pembangunan ekonomi tidak harus selalu dimulai dari pusat. Desa dan kelurahan punya potensi besar jadi sumber pertumbuhan baru jika didukung konektivitas dan literasi digital yang cukup.
Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi, Riza Azmi, menyampaikan sejak diluncurkan Juli 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, sebanyak 83 ribu KDKMP telah berdiri di berbagai daerah. Koperasi ini dilengkapi Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (Simkopdes) sebagai bagian dari modernisasi tata kelola.
“Simkopdes jadi fondasi teknologi Koperasi Merah Putih. Platform ini mendukung transparansi, efisiensi operasional, dan kemudahan akses bagi seluruh anggota,” ujar Riza Azmi.
*Angkat Cerita Desa ke Level Nasional*
Workshop Media Cerita Koperasi Desa, Jadi Berita Bermakna di Semarang adalah pelaksanaan kedua setelah sebelumnya digelar di Bandung pada 22 April 2026.
Kegiatan ini mendorong media mengangkat kisah koperasi desa dan UMKM dengan cara yang kontekstual, relevan, dan bernilai berita. Media punya peran penting menjadikan cerita koperasi desa sebagai narasi utama pembangunan ekonomi rakyat yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain Riza Azmi, hadir juga Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Sulistyo Bramiyanto, serta Jurnalis Senior dan Akademisi Universitas Padjadjaran, Abie Besman.
Abie Besman menekankan pentingnya pendekatan jurnalistik yang kuat agar cerita koperasi desa menarik bagi publik.
“Berita harus hidup. Temukan nilai beritanya: dampaknya ke masyarakat, konfliknya, kebaruannya. Kalau tidak menarik, koperasi susah dikenal publik,” kata Abie.
Ia menilai liputan koperasi sering terjebak narasi seremonial sehingga kehilangan relevansi. Padahal cerita koperasi desa punya sisi kemanusiaan, keberlanjutan, dan dampak sosial yang kuat jika digali tepat.
Workshop ini jadi langkah strategis Kemkomdigi meningkatkan kualitas pemberitaan KDKMP dengan prinsip BEJOS: Bertanggung jawab, Edukatif, Jujur, Objektif, dan Sehat.
Lewat praktik jurnalistik, media diharapkan menghadirkan liputan yang faktual, berimbang, dan edukatif. Tujuannya memperkuat pemahaman publik tentang peran koperasi desa dalam pembangunan ekonomi nasional.
(***)
Tidak ada komentar