16 Tahun Menjajakan Bandros, Pak Nasihin Buktikan Kerja Keras Mampu Mengantar Anak Meraih Masa Depan

waktu baca 3 menit
Senin, 8 Jun 2026 20:00 11 Redaksi

Garut, Faktanusantara.co.id//, – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, sosok Pak Nasihin (59) tampak setia menjalani rutinitas yang telah digelutinya selama belasan tahun. Warga Kampung Cipicung, Desa Hegarmanah itu setiap hari berkeliling menjajakan kue bandros, makanan tradisional khas Sunda yang kini semakin jarang ditemui.

 

Selama kurang lebih 16 tahun, Pak Nasihin mengandalkan usaha kecil tersebut sebagai sumber penghidupan keluarga. Dengan gerobak sederhana dan loyang besi yang selalu menemaninya, ia berusaha mempertahankan kuliner tradisional sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga.

 

Di tengah maraknya makanan modern dan tren kuliner kekinian, usaha yang dijalankan Pak Nasihin tidak selalu berjalan mulus.

 

Penjualan kerap menurun, terlebih ketika cuaca buruk atau harga bahan bakar meningkat.

 

Meski demikian, ia tetap bertahan karena meyakini bahwa usaha yang dijalankannya merupakan jalan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

 

Setiap hari, aktivitas Pak Nasihin dimulai sejak dini hari. Ia menyiapkan adonan bandros sebelum melaksanakan salat Subuh.

 

Setelah itu, ia mulai berkeliling menjajakan dagangannya dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh.

 

“Saya bangun sebelum Subuh untuk membuat adonan. Setelah salat, langsung berangkat jualan.

 

Biasanya saya tidak sempat sarapan di rumah,” ungkapnya.

Usai berjualan hingga menjelang siang, Pak Nasihin masih melanjutkan aktivitas lain demi menambah penghasilan keluarga.

 

Selain memelihara beberapa ekor domba, ia juga mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan dan membantu pekerjaan pertanian jika ada kesempatan.

 

“Kalau sudah pulang jualan, saya cari rumput untuk domba. Selain itu, saya juga bekerja apa saja yang penting halal untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

 

Perjalanan panjang sebagai pedagang bandros tidak selalu menghasilkan keuntungan. Ada kalanya dagangan tidak habis terjual sehingga adonan yang tersisa harus dibuang.

 

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berusaha.

 

Menurut Pak Nasihin, motivasi terbesarnya adalah keluarga, khususnya anak-anak yang ingin ia lihat memiliki kehidupan lebih baik daripada dirinya.

 

Baginya, pendidikan merupakan bekal paling berharga yang bisa diberikan kepada generasi penerus.

 

“Saya tidak punya banyak harta untuk diwariskan. Yang saya harapkan hanya anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dan masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

 

Kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.

 

Anak-anak Pak Nasihin kini telah tumbuh dewasa, bahkan sebagian sudah membangun keluarga sendiri.

 

Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya yang selama ini berjuang dari hasil penjualan bandros.

 

Tak hanya menjadi tulang punggung keluarga, Pak Nasihin juga berperan menjaga keberlangsungan kuliner tradisional yang mulai tergerus perkembangan zaman.

 

Dengan mempertahankan resep dan cita rasa yang sama selama bertahun-tahun, ia turut melestarikan warisan kuliner daerah agar tetap dikenal masyarakat.

 

Kisah hidup Pak Nasihin menjadi gambaran nyata tentang arti ketekunan, kesabaran, dan kerja keras. Dari usaha sederhana menjajakan bandros, ia mampu membesarkan keluarga sekaligus membuktikan bahwa pengabdian terhadap pekerjaan yang dijalani dengan penuh keikhlasan dapat menghasilkan manfaat yang besar.

 

Saat matahari semakin meninggi, Pak Nasihin kembali melangkah menyusuri jalanan Bungbulang.

 

Di balik gerobak sederhana yang ia dorong setiap hari, tersimpan harapan, perjuangan, dan mimpi besar untuk masa depan keluarganya.

(***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA