
SEMARANG, FAKTANUSANTARA.CO.ID//—Peringatan haul ulama kharismatik KH Sholeh Darat kembali digelar dengan nuansa budaya melalui Kirab Budaya tahun 2026.

Kegiatan yang kini memasuki penyelenggaraan kedua ini tampil lebih meriah dibanding tahun sebelumnya yang berlangsung sederhana di kawasan Kalisari.
Tahun ini, pusat kegiatan dipindahkan ke Lapangan Kuningan yang berdekatan dengan masjid bersejarah peninggalan sang ulama.
Kirab budaya tersebut tidak hanya menjadi agenda rutin, melainkan juga diarahkan sebagai sarana pengembangan wisata religi sekaligus media pembelajaran sejarah Islam di Nusantara.

Dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang menunjukkan bahwa kegiatan ini dinilai strategis dalam menjaga warisan budaya serta memperkuat jati diri daerah.
Ketua panitia, H. Ahmad Gunawan, menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun ini dikemas lebih atraktif dan sarat makna.
Ia menekankan bahwa kirab tidak sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dalam sosok dan perjuangan KH Sholeh Darat.
Masyarakat pun diajak untuk turut ambil bagian dalam kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 19 April 2026, pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.
Momentum ini diharapkan menjadi ajang kebersamaan dalam melestarikan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Rangkaian acara diawali dengan pertunjukan teater di Kampung Melayu yang mengisahkan perjalanan KH Sholeh Darat sepulang dari Makkah menuju Semarang.
Kisah tersebut menampilkan penyambutan oleh tokoh setempat dan para ulama, menggambarkan kuatnya jaringan keilmuan pada masa itu.
Selanjutnya, peserta kirab bergerak menggunakan dokar dengan iringan pasukan bernuansa Mataram Islam, ratusan santri, serta warga Nahdlatul Ulama.
Rute yang dilalui mencakup Kampung Melayu, Masjid Menara, Masjid Darat, hingga berakhir di Lapangan Kuningan.
Wakil ketua panitia, Farid Zamroni, menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran sejarah yang mudah dipahami lintas generasi.
Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa perjuangan ulama tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga lewat pendidikan dan budaya.
Nilai pendidikan juga diperkuat melalui adegan lanjutan yang menampilkan sosok RA Kartini sebagai murid KH Sholeh Darat. Kisah ini dinilai relevan dengan semangat emansipasi perempuan, terlebih berdekatan dengan peringatan Hari Kartini.
Di lokasi akhir, pertunjukan teater kembali digelar dengan mengangkat tema perjuangan dakwah melalui jalur pendidikan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan dalam membangun kesadaran dan kemandirian masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan penampilan kolosal 15 grup rebana yang dipimpin Gus Ihsanuddin, serta sambutan Ketua PCNU Kota Semarang H. Anasom yang dikemas dalam tembang macapat sebagai wujud pelestarian budaya lokal.
Puncak kegiatan rencananya dihadiri Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama unsur Forkopimda. Kegiatan kemudian ditutup dengan pengajian Wayang Dakwah oleh KH Nurul Huda (Gus Huda) yang dikenal dengan pendekatan dakwah berbasis budaya Jawa.
Melalui kirab ini, panitia bersama PCNU Kota Semarang berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut berperan aktif dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta tradisi budaya di tengah kehidupan modern.
(***)
Tidak ada komentar